Apa Itu Europe Entry/Exit System (EES)? Panduan Lengkap untuk Wisatawan Indonesia

Jika kamu berencana liburan ke Eropa dalam waktu dekat, ada satu perubahan penting wajib kamu pahami, yakni Europe Entry/Exit System (EES).

Sistem baru ini mengubah cara wisatawan non-Uni Eropa, termasuk WNI, masuk dan keluar wilayah Schengen. Jika sebelumnya petugas imigrasi akan membubuhkan cap masuk dan keluar pada paspor, kini proses tersebut mulai digantikan oleh sistem digital berbasis biometrik.

Banyak traveler mengira perubahan ini hanya soal penggunaan e-gate atau teknologi yang lebih modern. Padahal, dampaknya jauh lebih besar karena seluruh riwayat keluar-masuk kawasan Schengen akan tercatat secara digital serta terintegrasi.

Lalu sebenarnya apa itu Europe Entry/Exit System, bagaimana cara kerjanya, hingga apa yang perlu diperhatikan oleh pemegang visa Schengen? Berikut panduan lengkapnya.

Baca juga: Negara di Eropa yang Tidak Bisa Dikunjungi dengan Visa Schengen (Membutuhkan Visa Khusus)

Apa Itu Europe Entry/Exit System (EES)?

Europe Entry/Exit System (EES) adalah sistem manajemen perbatasan digital baru di negara-negara Schengen untuk mencatat data keluar dan masuk wisatawan non-Uni Eropa secara elektronik. Sistem ini menggantikan metode cap paspor manual yang selama puluhan tahun digunakan di perbatasan Eropa.

Apa Itu Europe EntryExit System (EES) - European Commission

Sumber gambar: European Commission

Melalui sistem ini, data-data berikut akan direkam secara digital:

  • Informasi paspor

  • Tanggal dan lokasi masuk Schengen

  • Tanggal dan lokasi keluar Schengen

  • Foto wajah biometrik

  • Sidik jari

  • Riwayat penolakan masuk (jika ada)

Tujuan utama EES adalah meningkatkan keamanan perbatasan, mengurangi penyalahgunaan visa, mendeteksi overstay secara otomatis, dan mempercepat proses pemeriksaan imigrasi.

Apakah Europe Entry/Exit System Sudah Berlaku?

Ya. Setelah melalui beberapa kali penundaan, sistem EES kini telah beroperasi penuh di seluruh titik perbatasan eksternal negara-negara yang berpartisipasi dalam Schengen. Sistem ini menggantikan cap paspor manual untuk wisatawan non-Uni Eropa yang melakukan perjalanan jangka pendek.

Artinya, ketika kamu tiba di bandara internasional pertama di kawasan Schengen, data biometrik dan data perjalananmu akan direkam ke dalam sistem EES.

Baca juga: Aturan Visa Schengen Terbaru: WNI Kini Lebih Mudah Dapat Visa Schengen Multiple Entry 5 Tahun

Bagaimana Cara Kerja EES Saat Kamu Tiba di Eropa?

Proses yang akan kamu alami saat tiba di kawasan Schengen dapat berbeda, tergantung apakah ini merupakan kunjungan pertamamu sejak sistem EES diberlakukan atau bukan.

Jika Ini Kunjungan Pertamamu Menggunakan EES

  1. Tiba di Negara Schengen Pertama Setelah mendarat, kamu akan diarahkan ke area pemeriksaan imigrasi yang telah terintegrasi dengan sistem EES berupa e-gate khusus atau Kios EES.

  2. Pemindaian Paspor Lakukan pemindaian paspor pada mesin self-service untuk mengambil data identitas dan informasi perjalanan.

  3. Perekaman Data Biometrik Karena ini merupakan kunjungan pertama, sistem akan mengambil foto wajah dan memindai sidik jari pada mesin tersebut. Data biometrik tersebut kemudian disimpan dalam database EES.

  4. Verifikasi dan Masuk ke Wilayah Schengen Setelah data berhasil diverifikasi, kamu dapat melanjutkan proses imigrasi dan masuk ke wilayah Schengen.

Jika Kamu Sudah Pernah Menggunakan EES Sebelumnya

Pada kunjungan berikutnya, proses pemeriksaan biasanya menjadi lebih cepat karena data biometrik sudah tersimpan dalam sistem.

  1. Pemindaian Paspor Tetap lakukan pemindaian paspor pada mesin self-service di e-gate khusus atau Kios EES.

  2. Verifikasi Identitas Sistem akan mencocokkan identitasmu dengan data biometrik yang sudah tersimpan sebelumnya.

  3. Masuk ke Wilayah Schengen Jika data sesuai, proses pemeriksaan dapat berlangsung lebih efisien tanpa perlu melakukan perekaman biometrik ulang dalam kondisi normal.

Peraturan Visa Schengen Multi Entry Terbaru

Sumber gambar: Freepik

Apakah Paspor Masih Akan Dicap?

Dalam implementasi penuh EES, cap paspor manual pada umumnya sudah tidak lagi menjadi bukti utama keluar-masuk wilayah Schengen karena seluruh data tercatat secara digital.

Inilah alasan mengapa banyak traveler mulai menyadari bahwa riwayat perjalanan ke Eropa ke depan akan lebih bergantung pada data digital dibandingkan stempel fisik di paspor.

Hal Penting yang Sering Disalahpahami Traveler Indonesia

Muncul anggapan bahwa karena semuanya sudah digital dan menggunakan e-gate, maka negara tempat mengajukan visa Schengen tidak lagi penting.

Padahal kenyataannya tidak demikian.

Tetap Ajukan Visa Schengen ke Negara Tujuan Utama atau Titik Entry Sesuai

Banyak traveler melakukan perjalanan multi-country di Eropa. Misalnya:

Jakarta → Paris → Amsterdam → Berlin → Roma → Jakarta

Setelah kamu berhasil masuk melalui Paris, perjalanan antar negara Schengen berikutnya umumnya tidak melewati pemeriksaan imigrasi lagi karena dianggap sebagai perjalanan internal kawasan Schengen.

Artinya, perpindahan dari Perancis ke Belanda, Jerman, atau Italia tidak selalu menghasilkan catatan imigrasi baru seperti saat berpindah negara di luar Schengen.

Karena itu, otoritas visa tetap dapat melihat apakah pola perjalananmu sesuai dengan negara yang menerbitkan visa.

Jika seseorang berulang kali mengajukan visa ke negara yang prosesnya dianggap lebih mudah tetapi kenyataannya sebagian besar waktu justru dihabiskan di negara lain, kondisi ini sering disebut sebagai "visa shopping".

Praktik tersebut dapat menjadi faktor yang mempengaruhi penilaian aplikasi visa Schengen pada masa mendatang. Oleh karena itu, meskipun Europe Entry/Exit System sudah sepenuhnya digital, kamu tetap disarankan:

  • Mengajukan visa ke negara tujuan utama sesuai itinerary

  • Menyiapkan bukti akomodasi konsisten

  • Menunjukkan rencana perjalanan secara realistis

  • Menghindari praktik visa shopping

Dengan kata lain, EES tidak menghilangkan pentingnya strategi pengajuan visa Schengen yang benar. Untuk solusi praktis pengajuan visa Schengen, kamu bisa andalkan platform SPUN. Dengan bantuan tim ‘visa expert’ dalam proses pengajuan-mu, tak hanya lebih mudah, peluang pengajuan diterima juga jadi lebih besar.

Apa Keuntungan Europe Entry/Exit System untuk Traveler?

Meskipun banyak yang khawatir soal pengambilan data biometrik, sistem ini sebenarnya membawa beberapa keuntungan.

1. Proses Imigrasi Lebih Modern

Penggunaan teknologi biometrik memungkinkan proses identifikasi lebih cepat dibanding pemeriksaan manual.

2. Mengurangi Risiko Kehilangan Riwayat Perjalanan

Karena data tersimpan secara digital, traveler tidak perlu khawatir jika cap paspor sulit terbaca atau terlewat.

3. Perhitungan Masa Tinggal Lebih Akurat

Sistem dapat secara otomatis menghitung aturan 90 hari dalam periode 180 hari yang berlaku di kawasan Schengen.

4. Keamanan Lebih Tinggi

EES membantu mendeteksi identitas palsu, penyalahgunaan dokumen, serta kasus overstay secara lebih efektif.

Apakah EES Sama dengan ETIAS?

Tidak. Banyak traveler masih menganggap EES dan ETIAS (European Travel Information and Authorisation System) adalah sistem yang sama. Padahal keduanya berbeda. 

EES (Entry/Exit System) adalah sistem pencatatan keluar-masuk dan biometrik di perbatasan. Sedangkan ETIAS (European Travel Information and Authorisation System) merupakan otorisasi perjalanan elektronik yang nantinya akan berlaku bagi warga negara yang saat ini dapat masuk Schengen tanpa visa.

Bagi WNI yang tetap membutuhkan visa Schengen, perubahan paling relevan saat ini adalah penerapan EES.

Persiapkan Perjalanan ke Wilayah Schengen Lebih Percaya Diri Bersama SPUN

Europe Entry/Exit System (EES) menandai era baru perjalanan ke Eropa. Sistem ini menggantikan cap paspor manual dengan pencatatan digital berbasis biometrik yang mencatat seluruh aktivitas keluar-masuk kawasan Schengen secara lebih akurat.

Bagi traveler Indonesia, memahami cara kerja EES sangat penting agar tidak bingung saat tiba di bandara Eropa dan dapat mempersiapkan dokumen perjalanan dengan benar.

Namun satu hal pasti: pengajuan visa Schengen harus dilakukan secara tepat sesuai tujuan perjalanan utama. Meski proses imigrasi kini semakin digital, pemilihan negara pengajuan visa yang tidak sesuai dengan itinerary tetap berpotensi menimbulkan pertanyaan pada aplikasi visa berikutnya.

Jika kamu berencana liburan, business trip, mengunjungi keluarga, atau melakukan perjalanan multi-country di Eropa, proses pengajuan visa bisa menjadi lebih mudah dengan bantuan profesional. Melalui SPUN, kamu dapat memperoleh pendampingan aplikasi visa ke berbagai negara, termasuk negara-negara Schengen, sehingga dokumen, itinerary, serta proses pengajuan dapat dipersiapkan dengan lebih optimal sebelum keberangkatan.

Next
Next

Apa itu  Japan Visa Waiver (JAVES) & Cara Apply Visa Jepang 100% Online: Panduan Lengkap untuk Pemegang E-Paspor